MERAIH HIKMAH DARI PANDEMI COVID 19
Dunia
kini menangis. Meneteskan air mata kemanusiaan, air mata penderitaan, air mata
kesakitan, air mata kematian. mereka mencoba berjalan tapi terhuyung, mencoba
menatap, tapi tak tak tentu arah. Mencoba berpikir, tapi galau dan tak teratur,
mencoba bertindak, tapi tak berbekas dan tak bergerak, semua untuk saat ini,
terasa hampah dan terasa punah. Apakah ini, sudah menjadi tanda bahwa bumi akan segera berhenti berputar dan hancur,
apakah ini menjadi tanda bahwa bumi sudah enggang untuk di tempati oleh
manusia. Apakah langit, lautan, hutan rimba sudah tak lagi ramah kepada
penghuni bumi.
Para sahabat inspirasi
Kini manusia sebagai penghuni sempurna di muka bumi sedang menangis karena titah sang Tuhan. Sedang sakit karena garis takdir sang Tuhan. Virus Corona sudah menjadi senjata yang tak berwujud tapi nyata. Virus covid 19 telah menjelma bak harimau yang tak Nampak belang dan taringnya, Virus tersebut telah memberikan penderitaan kepada seluruh manusia di bumi ini, virus tersebut telah merenggut kebebasan dan kehingarbingarnya manusia di buminya Allah, virus tersebut telah merenggut sekian banyak nyawa, iya anak anaka, remaja, dewasa, orang kaya, simiskin penguasa ataupun yang sementara berbuat dzalim, semuanya diambil oleh sang pemilik waktu.
Titah Tuhan pun hadir menyapa dalam hidup. Mungkin kita berpikir bahwa, titah tersebut adalah sebuah Takdir, atau mungkin sebuah fakta yang telahdigariskan Tuhan, mungkin sebuah hukuman, atau sekedar peringatan, yang memang senagaja diturunkan Tuhan. mungkin karena ulah kita sendiri, ataukah karena kesalahan kita sendiri, sehingga Tuhan memberikan kita pelajaran yang kelak kita ilhami dan resapi menjadikannya sebagai pengalaman.
Mungkin selama kita berpijak di buminya Allah, mungkin terlalu banyak kehilafan yang telah kita buat, mungkin terlalu banyak kesalahan dan dosa yan telah kita lakonkan, permainan kotor pun kta lakukan, mencoba menelikung, sikut kanan kiri, hasut sana sini, fitnah antar sesama, suap untuk memudahkan keberhasilan, tangan besi dijadikan senjata, kekuasaan dan jabatan dijadikan Tuhan, harta dijadikan raja, kesombongan meraja dimana-mana. Iya bisa jadi, itulah perilaku yang Nampak dimuka buminya Allah. Disis lain, mungkin ketaqwan kita sudah redup oleh hingar bingarnya dan kemolekan dunia, sehingga panggilan untuk berbuat baik tidak diindahkan, panggilan untuk sujud kepadaNya sudah tidak lagi dilakukan. Iya, boleh jadi itulah semua yang membuat Tuhan menurunkan Titahnya.
Sebuah prinsip hidup ingin saya katakan kepada anda saat ini, sebuah kalimat yang semoga dapat menggugah dan mensugesti rasio dan batin anda yaitu, Satu detik anda lupa deng an Tuhan, maka itulah musibah. Artinya, bahwa gunakanlah waktu hidupmu untuk yang baik. Waktu hidup adalah waktu untuk berkarya, berjuang, bersinergi, menjadi khalifah yang mulia disisi Allah dan sesamanya. Setiap detik terlalu berharga untuk kita lalai dari Tuhan. Karena setiap detik kita akan ditanya oleh sang pemilik waktu, “kau gunakan apa saja waktu hidupmu wahai manusia” Sudahkah kita punya bekal, apakah kita sudah punya jawaban untuk pertanyaan tersebut. Logikanya, 1000 tahun pun tidak akan pernah cukup untuk kita gunakan hidup ini kalau hanya digunakan untuk kesenangan semu belaka.
Kalau syahwat hidup kita hanya kita
arahkan pada hal yang buruk, nista dan jauh dari sisi serta nilai kebaikan. Di
mana lagi kodrat kita sebagai hamba yang telah berjanji terhadap-Nya. Bukankah
kita telah membuat perjanjian dan sumpah di depan Tuhan. “Alastu Bi Rabbiqum, Qalu Bala Syahidna”.
Makna yang dapat kita peroleh dari kejadian tersebut, bahwa ketika manusia lupa dengan keberadaannya sebagai hamba, maka saat itulah musibah telah datang menerpa dirinya, setiap saat kita harus tetap mengisi rasa, rasio dan bathin kita dengan mengingat Tuhan. Itulah kesejatian hidup yang sebenarnya. Ketika kita lalai untuk mengingat, maka itu adalah ketidakbenaran. Satu detik terlalu berharga untuk kita lalai. Karena ketika kita lalai, maka itulah musibah. Wallahu A’lam Bissawab
Semoga bumi dan semua isinya ini segera terbebaskan dari musibah dan berbagai virus yang melanda saat ini. Semoga Tuhan masih enggang untuk memberikan kita kesempatan untuk bertobat dan bermuhasabah kepadaNya. Semoga kita semua menjadi hambanya yang taat.
Jangan pernah biarkan diri anda bermain
api dengan Tuhan, karena ketika itu kita lakukan maka tunggulah sang pengadil
sejati. Maka jadilah pengabdi yang taat, jadilah pengabdi yang patuh.
Sejatinya, ketaatanlah dan pengabdianlah yang terbungkus dengan kata taqwa, dan
sesungguhnya keTaqwaan itulah manusia.

Posting Komentar untuk "MERAIH HIKMAH DARI PANDEMI COVID 19"